.. Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label TAUJIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUJIH. Tampilkan semua postingan

PKS Sebagai Partai Dakwah Merupakan Sebuah Karakter

Written By Admin on Minggu, 29 Desember 2019 | 17.15

Jakarta -- Presiden Partai Kedilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman menegaskan karakter PKS adalah sebagai Partai Dakwah. Hal itu disampaikan Sohibul dalam acara Peringatan Maulid Nabi, di Kantor DPP, Jakarta, Ahad (29/12/2019).

"Hari ini PKS sering menyebut (dirinya, red) sebagai Partai Dakwah. Maknanya apa? Artinya PKS tidak semata-mata partai politik yang hanya berbicara tentang kekuasan. PKS ingin melakukan perbaikan-perbaikan dalam seluruh segi kehidupan masyarakat Indonesia," jelas Sohibul.
Sohibul juga mengajak elemen masyarakat untuk bersama-sama bergandeng tangan melakukan perbaikan untuk Indonesia yang lebih baik.
"Kita setiap saat memperbaiki kondisi-kondisi yang belum ideal dalam setiap sektor kehidupan masyarakat, untuk kemudian kita perbaiki menuju sesuatu yang jauh lebih baik," ujar Sohibul.
Dalam acara tersebut Sohibul juga mengingatkan peserta untuk bisa lebih baik lagi dalam berkhidmat untuk rakyat.
"Rakyat maknanya ada umat dan ada bangsa di dalamnya. Ini juga menegaskan bahwa PKS bukan hanya bekerja semata-mata hanya untuk umat Islam, tetapi PKS bekerja untuk seluruh rakyat Indonesia apapun latar belakang mereka," tegas Sohibul.
Hadir dalam kesempatan Maulid Nabi ini Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, Habib Ahmad bin Ali Assegaf, Habib Hud bin Bagir Al-Attas, Habib Hanif bin Abdurrahman Al-Athas, dan segenap kyai dan Aleg PKS, baik di DPR RI maupun DPRD DKI Jakarta

Pahlawan, Pecinta dan Pembelajar

Written By Admin on Selasa, 09 Februari 2016 | 14.49

Semangat kepahlawanan dan kekuatan cinta adalah sumber energi yang menggerakkan segenap raga kita untuk menciptakan taman kehidupan yang indah bagi diri kita dan orang lain. Tapi pembelajaran menuntun kita untuk berjalan dengan cara yang benar pada peta jalan yang tepat menuju ke sana.

Semangat kepahlawanan dan kekuatan cinta adalah sumber energi yang mendorong kita untuk terus-menerus memberi, untuk berkontribusi tanpa henti dalam menciptakan taman kehidupan yang indah itu. Tapi pembelajaran menuntun kita untuk mengembangkan kapasitas diri kita, juga tanpa henti, agar semangat memberi berbanding lurus dengan kemampuan kita untuk memberi. Sebab mereka yang tidak punya apa-apa, kata pepatah Arab, takkan bisa memberi apa-apa.

Semangat kepahlawanan dan kekuatan cinta adalah sumber energi yang lahir dari keikhlasan dan ketulusan niat, tumbuh berkembang dalam lingkungan hati yang mulia dan luhur, mekar dan berbuah dalam rengkuhan jiwa yang baik dan bijak. Maka seluruh niatnya adalah kebajikan. Maka segala cintanya adalah ketinggian. Tapi pembelajaran membingkai niat baik itu denga cara yang benar dan tepat.

Maka berpadulah ketulusan dengan kebenaran. Maka bertautlah kebaikan dengan ketepatan. Maka menyatulah keluhuran dengan keterarahan. Maka bersamalah ketinggian cita dengan peta jalan yang terang benderang.

Begitulah pada mulanya pahlawan sejati menapaki tilas sejarah mereka. Mereka mendengar panggilan sejarah yang diteriakkan oleh pekik nurani mereka. Maka mereka terbangun, tersadar, lalu bergerak. Lalu datanglah cinta memberi tenaga pada gerak mereka. Maka langkah kaki mereka menancap kokoh di tapak sejarah, melaju secepat angin, kuat bertenaga bagai badai. Tapi mereka menyadari makna waktu dalam aksi mereka; bahwa ada keterbatasan waktu yang tidak bisa mereka kendalikan padahal cita mereka teramat tingggi; bahwa memberi adalah proses yang tak boleh berhenti seperti kompetisi maraton yang mensyaratkan nafas panjang. Mereka memiliki sumber energi yang dahsyat, tapi mereka juga tahu bagaimana mengelola energi itu untuk bisa menciptakan karya kehidupan yang maksimal. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki keterbatasan yang rapuh, tetapi mereka juga tahu bagaimana mensiasati keterbatasan itu untuk bisa tetap bertumbuh sampai ke puncak. 

Anis Matta
Sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi

Perempuan-Perempuan yang Dibanggakan Allah

Pada zaman seperti ini, di mana Al-Qur'an masih dijauhi oleh umat, Islam belum merata menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, bahkan yang sudah ber-KTP Islam, dan kehidupan dunia menjadi dambaan umumnya manusia, karena tidak paham dan tidak tertarik dengan kehidupan akhirat. Jika ditanya sosok perempuan seperti apakah yang menjadi dambaan dalam menjalani hidup ini, maka bisa dipastikan sumbernya atau referensinya adalah televisi, koran, majalah, dan lain-lain. Hasilnya adalah perempuan dambaan itu hanyalah perempuan-perempuan yang sukses dalam kehidupan dunianya, mereka itu adalah para artis, selebiritis, entertainer, dan lain sebagainya. Menjadi sangat wajar jika pemikiran umat seperti ini, karena yang diakrabi bukan Al-Qur'an atau petunjuk Rasulullah SAW berupa sunnahnya dan kehidupan salafussalih yang mulia. Karena wirid hariannya bukan lagi Al-Qur'an, namun perkembangan kehidupan ahluddunya lah yang selalu dipantau dan dinanti-nanti. Fa laa haula wa lla quwwata illa billah.

Disinilah pentingnya tulisan-tulisan seperti ini, betapa pun kecil perannya, dibanding dengan derasnya arus sumber informasi yang selalu menginformasikan kehidupan dunia dan perhiasannya. Namun Allah Maha Tahu niat hamba-hamba-Nya yang selalu optimis dalam merubah kehidupan umat betapapun kecil daya dukungnya. Dengan keyakinan keberkahan dari setiap amal yang diridhai Allah, maka insya Allah tulisan sederhana ini, mampu memberi pencerahan kepada umat, agar menjadikan tokoh-tokoh perempuan dalam Al-Qur'an lah yang harus menjadi panutan kehidupan yang sangat singkat ini, dan mereka yang seharusnya menjadi dambaan dan panutan dalam kehidupan ini.

Al-Qur'an Memuliakan Perempuan

Cukuplah seorang perempuan itu menjadi seorang Ibu, maka dirinya adalah sosok manusia yang sangat dimuliakan oleh Al-Qur'an dan Rasulullah SAW. Hal ini karena jasa dan perannya yang spektakuler dalam membesarkan generasi yang Allah titipkan kepadanya yang akan menjadi cikal bakal terbentuk suatu generasi yang salih menuju peradaban, yang akan membahagiakan semua manusia. Semua tokoh-tokoh besar di negeri ini dan di tempat lain, sungguh tidak terlepas dari peran wanita sebagai seorang ibu. Allah berfirman :

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman : 14 )

Agar seorang ibu bersemangat membesarkan generasi yang dilahirkan, maka seorang anak harus menghargai dan menjunjung setinggi-tingginya ibu yang telah melahirkannya. Seorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah orang yang paling berhak mendapat perlakukan yang sebaik-baiknya? Rasulullah SAW menjawab; Ibumu, siapa lagi ya Rasulullah? Ibumu. Siapa lagi Ya Rasulullah? Ibu mu”.

Begitulah Rasulullah menempatkan posisi seorang ibu dalam kehidupan keluarga. Alangkah ruginya perempuan muslimah yang tidak merasakan penghargaan ini dalam kehidupan keluarganya, hanya karena kurang memahami konsep rabbani ini. Seorang penyair Syauqi mengatakan, ”Ibu adalah bagaikan lembaga pendidikan, jika dipersiapkan dengan baik, maka kan menghasilkan generasi yang berkualitas”.

Sepatutnya para ibu muslimah belajar dari ibu Imam Syafiii, setelah melahirkan bayinya yang kelak menjadi ulama besar bernama Imam Asya Syafii di Gaza Palestina. Beliau berjuang, menempuh jarak yang jauh mengembara ke tanah suci Makkah, untuk menyiapkan lingkungan yang lebih baik untuk putranya, agar tumbuh menjadi anak yang berkualitas, setelah kurang lebih tujuh tahun, beliau pindah ke Al Madinah, agar anaknya menimba ilmu dari guru besarnya Imam Malik rahimahullah. Inilah peran minimal seorang ibu untuk keluarga.

Namun jika seorang ibu muslimah menjadikan ibu-ibu berprestasi besar menjadi acuan hidupnya, maka Al-Qur'an dan sirah Rasulullah SAW lah yang pantas menjadi panduan hidup yang sangat visualis untuk diteladani dan diterjemahkan dalam realita kehidupan. Dengan semangat dan kesungguhan yang besar, sejarah akan terus berulang dalam kehidupan zaman ini. Namun jika kita membacanya dengan penuh pesimis, alih-alih ingin menerapkannya, membaca dan mengkajinya pun kita sudah merasa keberatan.

Beberapa sosok ibu yang dijelaskan Al-Qur'an, sehingga harus menjadi guru besar, bagi setiap muslim dan muslimah yang mencintai Al-Qur'an adalah sebagai berikut:

1. Asiyah binti Muzahim

Perempuan muslimah yang akhirnya hayatnya mati syahid di jalan Allah ini, sangat layak untuk beralasan untuk tidak berdakwah dan berjihad serta memperbaikii mayarakatnya yang super rusak karena kemusyrikannya dengan menuhankan Fir’aun, seperti yang telah Allah SWT rekam dalam surah At-Tahrim ayat 11. Sangat layak kalau saja ia berlasan dengan alasan-alasan berikut ini;
  • Suami yang sangat tidak kondusif, tidak saja musuh bebuyutan bagi dakwah, namun juga sebagai orang yang kafir dan mengaku sebagai Tuhan. Namun tidak menyusutkan semangatnya untuk berdakwah dan memperbaik masyarakat dengan mengajaknya beriman kepada Nabi Musa AS dan bertauhid kepada Allah, walupun taruhannya nyawa. Dan terbukti, akhirnya syahidah karena dibunuh suaminya sendiri, sebagai gantinya rumah di Surga Allah.
  • Lingkungan kehidupan yang tidak kondusif, karena semua takut akan mata-mata Fir’aun yang kapan saja melihat ada yang melakukan gerakan melawan sistem kehidupan yang dibangun Fir’aun, maka akan segera diculik dan dibunuh. Sehingga Asiyah bersama orang-orang beriman yang lain, yang tinggal di istana, melakukan dakwah sirriyah yang sangat rapih, sehingga tidak sedkit, mereka yang beriman kepada Allah.
  • Negara yang sangat tidak kondusif sistemnya, kondisi masyarakatnya dan lain-lainnya. Cukup kuat bagi Asiyah untuk menyerah dan beralasan, tidak berbuat islahul ummah (perbaikan masyarakat) dalam kondisi seperti ini.
Namun karena keyakinnannya dengan pertolongan Allah bagi siapa saja yang menolong agama Allah, sebesar apa pun halangannya, tetap Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan Allah. Dan hamba itu adalah seorang perempuan yang sering disebut makhluk yang lemah, lembut tidak berdaya. Namun hal itu tidak berlaku bagi Asiyah binti Muzahim. Maka bermimpilah ibu di zaman ini menjadi Asiyah binti Muzahim abad ini, niscaya Allah akan menolong hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.

2. Maryam binti Imran

Saat semangat-semangatnya dalam intensif beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, sampai-sampai Allah memilihnya menjadi perempuan yang paling unggul dan disucikan. Tiba-tiba Allah memintanya untuk berperan dalam islahul ummmah, betapa pun masyarakatnya nanti akan sangat menentangnya dan memeranginya. Proses peran tersebut dimulai dari peristiwa-peristiwa berikut;
  • Tiba-tiba Allah mengutus malaikat yang menemuinya untuk memberikan kabar gembira, bahwa sebentar lagi ia akan hamil.
  • Perempuan mana yang tidak kaget luar biasa, yang biasa disebut perempuan yang paling salihah, tiba-tiba hamil tanpa suami.
  • Sebagai manusia berjuta perasaan menggelayut dalam dirinya, mulai dari ingin mati sebelum peristiwa ini terjadi, perjuangan saat melahirkan, berpuasa tidak berbicara kepada siapa pun. Bacalah Al Qur’an surat Maryam, niscaya kita akan marasakan bagaimana kesabaran yang sangat dalam, dari seorang perempuan yang biasa disebut mahkluk yang lemah tidak berdaya, namun beliau kuat dan tegar menghadapi ujian Allah sebagai sarana perbaikan umat.
Perjalanan waktu akhirnya membuktikan. Isa yang dilahirkan tumbuh menjadi seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya, berakhlak mulia, menegakkan sholat dan menunaikan zakat sepanjang hidupnya. Maka Allah SWT sebut, seperti inilah kehidupan yang selamat dan penuh berkah seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 10 sampai 19.

Selamat hari Ibu, jadilah dambaan umat dan perempuan yang dibanggakan Allah SWT dan Rasulullah SAW, karena Anda adalah pelopor berkhidmat untuk rakyat, bangsa, dan negara.

Eka Safitri
Deputi Kajian Perempuan, Anak dan Keluarga
Bidang Perempuan dan Ketahan Keluarga (BPKK) PKS DKI Jakarta

Sumber: pks.id

Memaknai Arti Berkah

Barokah atau berkah adalah kondisi yang diinginkan oleh hampir semua hamba yang beriman, karenanya orang akan mendapat limpahan kebaikan dalam hidup.


Barokah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi barokah ialah bertambahnya ketaatanmu kepada الله dengan segala keadaan yang ada, baik berlimpah atau sebaliknya.

Barokah itu: "...albarokatu tuziidukum fii thoah." Barokah itu menambah taatmu kepada Allah

Hidup yang barokah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub عليه السلام, sakitnya menambah taatnya kepada Allah.

Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umair.

Tanah yang barokah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Allah... tiada banding.... tiada tara.

Makanan barokah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan itu mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat setelah makan.

Ilmu yang barokah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang barokah ialah yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal & berjuang untuk agama الله.

Penghasilan barokah juga bukan gaji yang besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.

Anak-anak yang barokah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Rabb-Nya dan kelak di antara mereka ada yang lebih shalih & tak henti²nya mendo'akan kedua Orangtuanya.

Semoga segala aktifitas kita hari ini barokah.

بَارَكَ اللهُ فِيْك

"Barang siapa yang mengajarkan satu ilmu dan orang tersebut mengamalkannya maka pahala bagi orang yang memberikan ilmu tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan ilmu tersebut." (HR. Bukhari & Muslim)

DR. Salim Segaf Al-Jufri
Ketua Majelis Syuro PKS

Sumber: pkskabsemarang.org

Sekarang Saatnya Berbisnis

Beberapa waktu yang lalu dua teman, meminta untuk mengisi pengajian dan bertemakan mengenai enterprenership. 


Sejak memulai langkah berani lima tahun silam setelah sebelumnya selama 4 tahun hidup di dua kaki, banyak sekali pelajaran mengenai bisnis yang terpahat di otak. 

Rasanya ilmu itu amat berharga dan setiap kesempatan aku ingin berbagi, agar orang lain juga bisa merasakan nikmatnya berbisnis. 

Kerinduanku kepada rasul bisa sedikit terobati dengan mengamalkan sunahnya, berbisnis dan bisa bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang. 

Mengutip pernyataan Dr David McClelland Seorang sosiolog dari Harvard dalam bukunya’The Achieving Society’ beliau mengatakan bahwa suatu negara dapat mencapai kemakmuran jika 2 % penduduknya menjadi pengusaha. Selaras juga yang disampaikan David Osborne dalam bukunya ‘Reinventing Govermnet’. 

Itulah mengapa singapura menjadi negara yang kuat secara ekonomi, karena di sana ada 7 % penduduknya yang berbisnis. Paling makmur adalah amerika yang memiliki 12 persen pengusaha. Jepang dan Cina sebagai Negara maju di Asia memiliki 10 persen pengusaha. Mengenai china aku punya pengalaman tersendiri ketika kemarin berburu barang2 murah di sana. 

Bagaimana dengan negeri tercinta, Indonesia ? menurut Dirjen Industri kecil dan menengah (IKM) Departemen Perindustrian, Fauzi aziz. Di indonesia jumlah pengusahanya baru 0.18 persen. Jauh sekali ya, wajar saja jika saat ini kita di kenal sebagai Negara konsumtif, mengingat jumlah penduduknnya yang mencapai 240 juta. 

Kalau kita menengok jauh kebelakang sebenarnya Islam pun mencontohkan agar kita berbisnis. 

dari sepuluh manusia hebat yang di jamin masuk surga sebagaian besar adalah para pengusaha yang sholeh. Seperti abdurahman bin auf atau usman bin affan. 

Pak Nugroho (SekBid Ekonomi PKS (tahun 2011)) dalam kultwitnya menjabarkan bagaimana para sahabat menggunakan kekayaannya untuk kemaslahatan orang lain. 

Usman Bin Affan saat perang tabuk melengkapi 1/3 pasukan kaum muslimin (10ribu), menyumbang 300 unta dan menyerahkan dana cash 1000 dinar, kalau di konversi ke rupiah menjadi 300 milyar. 

Pada saat yang sama abdurahman bin auf menyumbang dana cash 200 awqiyah emas = 9.5 milyar. 

Saat wafat abdurahman bin auf meninggalkan warisan sebesar 2.560.000 dinar atau setara dengan Rp. 4.3 trilyun!. 

Rahasia kemapanan adalah jika kita sudah tidak lagi memikirkan dapur, tapi bagaimana kita melompat jauh memikirkan yang bersifat tersier. Jalan menuju kesana yang cepat adalah berbisnis, kalau sekedar mengharapkan dari karir maka perlu menunggu berpuluh tahun, apakah kita hidup hanya untuk bekerja? tanpa tidak menikmati hidup . 

Mari kita ikuti sunah nabi dalam berniaga, berikut beberapa paparan mengenai bisnis. 

Take Action 

Berbisnis bukan teori bisnis adalah praktek. Merasakan , kita tidak tahu manisnya madu kalau tidak meminumnya.

Untuk menuju ke lantai 40 kita perlu melewati lantai dua dan seterusnya. Mulailah dari langkah pertama. Ambil sikap segera, tidak perlu menunggu untuk membentuk mental dagang. Rasakanlah sebuah transaksi, karena hakekat bisnis adalah transaksi. 

Fokus

Mengamankan kekayan dalam beberapa keranjang memang tepat, namun untuk membuat keranjang supaya kuat dan gak cepat robek adalah sebuah kerja keras. Persiapkan bisnis pertama kita sampai ia benar2 ready untuk di tinggal. Dan tinggalkan bisnis yang masa depannya buram. Seperti kata pak @nukman, Jalan bunuh diri pebisnis pemula: tanam banyak benih berbeda lalu kerepotan menyirami sehingga tak satu pun berbuah. 

Relasi 
Untuk berbicara relasi coba belajar dari pak @hertantowidodo atau pak @roniyuzirman, orang yang selalu membangun relasi dengan siapa saja, sehingga bersama teman2 yang lain mendirikan komunitas tangan di atas (TDA) tempat para pengusaha dan calon pengusaha saling berbagi ilmu. 

Trust 
Kunci keberhasilan dalam berbisnis adalah kepercayaan, trust bisa mengalahkan uang. Setidaknya ini yang pernah saya alami beberapa waktu lalu. Berikan kepercayaan kepada orang lain maka kelak hal itu akan kembali kepada anda. 

Pisahkan uang pribadi dari bisnis 
Sering saya melihat kegagalan bisnis seseorang karena mencampurkan antara keuangan keluarga dan bisnis. Ketidakdisiplinan seperti ini, secara tidak sadar akan menggerus modal kita. 

Berbisnis dengan Allah 
Ingin berhasil dalam setiap hal tanpa melibatkan Allah adalah NOL BESAR. Bisnis adalah dunia yang penuh ketidak pastian, libatkan Allah dalam setiap transaksi kita, maka ‘tangan-tangan’ Allah akan bergerak membesarkan usaha kita. 

Itu aja dulu, semoga bermanfaat, sudah jam setengah sepuluh, mau ke PRJ mengamati pameran printing.
Widoyo

Tentang Waktu

Setiap kali ada pergantian tahun seperti sekarang, saya selalu membangunkan kembali kesadaran saya tentang waktu dan cara merasakannya. Cara setiap orang merasakan waktu berbeda karena "satuan waktu" yang mereka gunakan juga berbeda. Itu lahir dari falsafah hidup yang juga berbeda. Jika kita memaknai hidup sebagai pertanggungjawaban, maka waktu adalah masa kerja. Waktu adalah kehidupan itu sendiri.


Orang-orang beriman membagi waktu - seperti juga hidup – ke dalam waktu dunia dan waktu akhirat. Itu 2 sistem waktu yang sama sekali berbeda. Waktu dunia adalah waktu kerja. Waktu akhirat adalah waktu pertanggungjawaban dan pembalasan atas nilai waktu kerja di dunia. Waktu kerja di dunia mengharuskan kita memaknai setiap satuan waktu sebagai satuan kerja. 1 unit waktu harus sama dengan 1 unit amal. Persamaan itu, 1 unit waktu sama dengan 1 unit kerja, membuat hidup kita jadi padat sepadat-padatnya, nilai waktu terletak pd isinya, kerja!

Tidak ada hal yang paling tidak bisa dipertanggungjawabkan dalam hidup orang beriman selain waktu luang. Itu hidup yang tidak terencana. Waktu luang lahir dari pikiran dan jiwa yang kosong, yang tidak punya daftar pekerjaan yang harus dieksekusi. Hidup mereka longgar tak bernas. Mereka yang punya daftar pekerjaan utk dieksekusi menempatkan waktu sebagai sumber daya tak tergantikan. Karena itu tidak boleh lewat tanpa nilai.

Efek waktu adalah akumulasi

Menyadari waktu adalah menyadari efeknya dan efek terpenting dari waktu adalah efek akumulasi. Sesuatu tidak terjadi seketika tapi bertahap. Akumulasi dari tindakan yang sama yang kita lakukan secara berulang2 akan menjadi karakter pada skala individu. Akumulasi dari karakter individu selanjutnya menjadi budaya dalam skala masyarakat. Akumulasi itu terjadi dalam rentang waktu tertentu. Akumulasi budaya dari berbagai kelompok masyarakat dalam rentang waktu tertentu itulah yang berkembang menjadi peradaban. Karena efek akumulasi sebuah peradaban tidak bisa bangkit seketika atau runtuh seketika. Ada faktor-faktor yang mempengaruhinya secara akumlatif.

Masyarakat bangkit melalui akumulasi kontribusi. Produktivitas individu-individu di dalamnya berupa karakter dan ide yang membentuk budaya mereka. Begitu juga keruntuhan sebuah masyarakat, itu akumulasi karakter dan ide destruktif individu-individunya yang membentuk budaya keruntuhannya.

Contoh lain adalah kesehatan. Kualitas kesehatan fisik dan mental kita di atas usia 40 tahun adalah akumulasi dari pola hidup sehari-hari kita. Sebagian besar penyakit yang kita alami di atas usia 40 tahun itu adalah akumulasi ketidakseimbangan pola hidup yang berlangsung lama. Begitu juga dengan struktur pengetahuan kita, itu adalah akumulasi ilmu yang kita peroleh sehari-hari melalui bacaan dan media belajar lain.

Usia membuat orang lebih arif karena ia mengalami akumulasi pengetahuan. Tehnologi hari ini adalah akumulasi tehnologi kemarin. Karena itu Nabi Muhammad saw mengatakan "Jangan pernah meremehkan kebajikan sekecil apa pun itu". Itu karena sifat akumulasinya. Beliau juga mengatakan "Amal yang paling baik dan paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan walaupun hanya sedikit". Itu akumulasi. Kebajikan kecil-kecil yang kita lakukan secara terus-menerus menunjukkan perhatian dan konsistensi serta keterlibatan emosi yang dalam. Nilai-nilai emosi yang menyertai amal itu hanya bisa dilihat dalam rentang waktu. Karena itu, waktu jadi alat uji iman dan karakter yang efektif.

Sisi negatif manusia juga akumulatif. Dosa yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi karakter dan selanjutnya memenuhi ruang hati manusia. Dosa yang telah jadi karakter tidak akan menyisakan ruang bagi dorongan kebajikan dalam diri seseorang. Allah akhirnya mengunci hatinya. Akumulasi dosa yang menjadi karakter menutup mata hati seseorang. Ada tabir yang menghalagi mata dan telinganya utk melihat kebenaran. Akumulasi itulah yang sebenarnya banyak menipu manusia pendosa karena terjadi secara perlahan dan tidak disadari oleh pelaku. Terlalu halus.

Karena efek akumulasi itu, maka sifat-sifat terpuji yang paling banyak berhubungan dengan waktu adalah kesabaran dan ketekunan. Tidak ada prestasi besar yang bisa kita raih dalam hidup tanpa kesabaran dan ketekunan yang panjang, sebab semua perlu waktu yang lama. Kecerdasan yang tidak disertai kesabaran dan ketekunan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Itu ciri orang cerdas yang tidak produktif. Itu sebabnya mengapa di antara semua sifat yang paling terulang dalam Qur'an adalah sabar. Termasuk hubungan dengan waktu dalam surat Al 'Ashr.

Kesabaran dan ketekunan adalah sifat utama yang melekat pada orang-orang besar, baik dalam dunia militer, bisnis, ekademik atau politik. Kesabaran dan ketekunan juga merupakan sifat dasar kepemimpinan, karena mereka harus memikul beban berat dalam jangka waktu yang lama. Kesabaran dan ketekunan adalah indikator kekuatan kepribadian seseorang. Artinya ia punya tekad yang takkan terkalahkan oleh rintangan.

Efek akumulasi juga mengajarkan kita untuk berpikir secara sekuensial. Berurut mengikuti deret ukur waktu. Itu strategic thinking. Kemampuan berpikir sekuensial adalah bagian dari kemampuan berpikir strategis yang diajarkan oleh kesadaran akan waktu. Efeknya besar! Kemampuan berpikir sekuensial terutama diperlukan saat kita membaca sejarah dan berbagai fenomena sosial politik. Juga dalam perencanaan.

Konsep Penggandaan

Sebagai sumber daya waktu sangat terbatas, orang-orang produktif pasti selalu merasa bahwa waktu mereka terlalu sedikit dibanding rencana amal mereka. Umat Muhammad saw juga mempunyai umur masa kerja yang jauh lebih pendek dari umat-umat terdahulu, untuk sebuah hikmah Ilahiyah yang kita tidak tahu. Jadi harus ada cara mengatasi keterbatasan itu. Untuk itulah Islam memperkenalkan makna efesiensi melalui konsep penggandaan.

Kita menggunakan waktu yang sama untuk sholat 5 waktu secara jamaah atau sendiri, tapi mendapatkan pahala yang berbeda. Waktu sama pahala beda. Waktu yang sama dengan pahala yang berbeda adalah inti dari konsep penggandaan. Ini menciptakan perbedaan mencolok dan mengatasi keterbatasan. Konsep penggandaan ini bisa mengubah persamaan dari sblmnya 1 unit waktu sama dengan 1 unit amal menjadi 1 unit waktu sama dengan beberapa unit amal. Ajaran tentang amal jariah, sedekah jariyah, ilmu yang diajarkan, anak sholeh yang terus mendoakan, juga penerapan lain dari konsep penggandaan.

Konsep penggandaan bukan saja mengajarkan bagaimana mengatasi keterbatasan sumber daya tapi juga bagaimana memaksimalkan sumber daya yang terbatas itu. Konsep penggandaan bukan saja mengajar bagaimana mengatasi keterbatasan sumberdaya, tapi juga bagaimana melipatgandakan hasil dari sedikit sumber daya. Seseorang bisa hidup lebih lama dari umurnya dengan konsep penggandaan itu. Caranya dengan menciptakan amal yang dampaknya lebih lama dari umur kita.

Seperti individu, masyarakat juga punya umur. Peradaban juga punya umur. Umur masyarakat ditentukan oleh akumulasi umur individu. Umur sosial menjadi panjang jika banyak individunya melakukan kerja-kerja penggandaan. Salah satunya adalah pewarisan ilmu pengetahuan.

Umur peradaban juga begitu. Peradaban barat moderen dibangun pertama kali oleh spanyol dan portugis, lalu inggris dan prancis, lalu AS. Epicentrum sebuah peradaban berpindah dari 1 masyarakat ke yang lain, begitu umur sosial masyarakat itu habis. Walaupun secara fisik tetap ada. Seperti Barat, peradaban Islam juga dipikul banyak suku bangsa. Mulanya Arab, lalu Persia, lalu Afrika, lalu Turki, lalu Mongol dst. Akumulasi umur sosial dari suku bangsa itu menentukan panjang pendeknya umur peradaban. Makin banyak yang memikulnya makin panjang umurnya.

Muhammad Anis Matta
 
Copyright © 2015. PKS Kota Tangerang Selatan
Proudly powered by HUMAS_PKS_TANGSEL